- Back to Home »
- Cerita Karangan »
- Antara Kawan dan Lawan
Posted by : catatannasantkj1
Sabtu, 06 September 2014
"Antara Kawan dan Lawan"
Pagi
yang cerah, matahari orange menemani aktivitas pagi yang indah, membuat semua
tersenyum bahagia...
“
Sher, kepala ku pusing.” Nada lemah Gita membuayrkan konsentrasi teman-temannya
yang tengah mengikuti Upacara Senin Pagi itu.
“Kamu
kenapa Git?” Tanya Sherly sembari memanggil anggota PMR sekolah di barisan
paling belakang. Tak lama kemudian salah satu anggota PMR membopong Gita menuju
UKS. Cewek periang itu kini terbaring lemah di kamar UKS.
“Gita
kenapa ya, perasaan tadi dia baik-baik saja, bahkan ikut bercanda nggosipin
pembina upacara yang bikin ngantuk.”
“Sssst...
udah diem, nanti kita dimarahi kepsek.” Tegur Sherly pada Alita yang juga teman
baik Gita. *** Stengah jam berlalu, riuh hiruk pikuk siswa memecah suasana
ketika protokol upacara mengumandangkan bahwa upacara di bubarkan.
“Aku
ke UKS dulu ya, kalian duluan aja ke kelas.” Kata Alita pada teman-temannya
sambil meangkah menuju UKS yang tak jauh dari lapangan tengah. Sesampainya di
UKS gadis baik hati ini terkejut melihat sahabatnya, tak ada satupun anggota
UKS yang mengurus sahabatnya di sana. Lalu ia mencoba menenangkan Gita yang
tengah muntah, Dengan penuh perhatian ia memberikan segelas air putih hangat
dan memijit-mijit kepala sahabat nya itu.
“Jangan-jangan
dia hamil lagi, maklum anak zaman sekarang.” Ucap salah seorang guru penjaga
UKS dengan nada sinis.” Alita yang mendengar pembicaraan itu tak kuasa melihat
kondisi sahabatnya.
“Tega
benar guru itu, berkata yang tidak semestinya di depan murid.” Gumam Alita
dalam hati.
“Kita
bawa saja kerumah sakit, biar jelas.” Sambung guru lainnya. Akhirnya Gita
dibawa kerumah sakit terdekat. ia mengambil antrean yang membosankan, dan
mengikuti tes kesehatan yang menyakitkan. Bau rumah sakit yang identik dengan
obat-obatan membuat perutnya semakin mual dan kepalanya pusing.
***
Hari semakin terang, matahari semakin tinggi.
Gita kembali ke kelas dengan raut wajah yang sangat lesu dan pucat. Salah
seorang teman menyambutnya dengan penuh tanya.
“Git,
udah sembuh? Kata dokter kamu sakit apa?” tanya citra penasaran. “Aku.. aku..
kata dokter aku terkena gejala TBC..” Jawab gita dengan terbata-bata. Nada
lemah Gita membuat suasana hening. Gita, gadis yang ramah dan periang, yang
selalu membuat teman-temannya tersenyum, yang tak bisa melihat teman-temannya
susah, kini duduk termenung di sudut bangku kelas. Sendirian.. kesepian.. ia
sangat frustasi, tertekan dan merasa tak berarti lagi.. “Apa salah ku ?”
batinnya menangis kesakitan.
***
Malam
kian mencekam, dingin angin malam menusuk sampai ke tulang. Gadis malang ini
terbangun mendengar telpon genggamnya berdering. Sejak pulang dari sekolah, ia
hanya terbaring di tempat tidurnya yang pengap di salah satu kos-kosan dekat
sekolahannya. Di bukanya pesan singkat itu. Ternyata dari Sherly..
Isi
pesan : “Gita aku minta maaf, kalau aku dan teman-teman untuk sementara
menjauhi mu. TBC itu penyakit yang sangat parah dan menular, kami tidak mau
tertular penyakit itu seperti kamu. Cepat sembuh ya Gita.”
Bagaikan ditusuk ribuan jarum, gadis
malang ini terkapar tak berdaya, butiran-butiran kecil air kini menggenangi
sudut matanya, tak kuasa lagi ia menahan, air mata itu semakin deras mengalir
di pipinya yang duu tak pernah ia ewati hari tanpa senyuman.
“Apa
ini balasan dari mereka? Setelah semua yang ku lakukan untuk mereka? Aku tak
minta banyak, saat ini aku Cuma membutuhkan sedikit motivasi untuk
membangkitkan semangat hidup ku. Tapi apa yang ku dapatkan??? Ya Allah, apakah
aku akan mati? Apakah semua akan berakhir sampai disini?
***
Seperti
biasa, embun dan mentari kembali menyapa.. menyapa senyum yang melekat di
setiap wajah-wajah.. namu tidak pada wajah peri yang kesepian ini..
“Aku lelah.. aku kesepian.. dimana kalian yang
ku anggap sahabat? Hari-hari yang ia lewati terasa buram, tak secerah dulu
lagi. Senyumnya yang indah tak tampak lagi melengkung menghiasi bibirnya. Lalu
seorang gadis bernama Rani, menghampiri bangkunya.
“Git,
kamu tau gak apa jawaban Allah saat kau curahkan semua keluh kesahmu?
“Ah
Rani, kamu bercanda saja. Mana mungkin aku mengetahui jalan cerita Allah.”
Jawab Gita pelan.
“Allah
berkata seperti ini : ‘Tenanglah sayang, ini bukan jalan buntu, tapi ini Cuma
sebuah belokan.’ Gita, kamu tidak akan pernah kesepian, karena kamu mempunyai
banyak orang yang menyayangi mu. Semangat dong, mana sosok Gita yang ku kenal
dulu? Yang tak pernah menyerah pada sang takdir.”
“Subhannaullah..”
Sontak Gita terharu mendengar ucapan temannya, teman yang selalu terkucilkan di
kelas itu. Kini menjadi sahabat yang benar-benar ada untuknya.
“Kini
aku paham, mana yang kawan dan mana yang lawan. Kini aku mengerti arti kesabarn
dan keikhlasan. Dan aku sadar betapa berharganya sedetik waktu dalam hidup ini.
Benar kata-kata bijak yang pernah aku baca, ‘jangan pernah menyesal bertemu
orang-orang dalam hidup ini, karena mereka telah mengajari kamu banyak hal yang
tidak pernah kau ketahui.”